cerpen : Luka Masa Silam

Luka Masa Silam

ochanz

Hampir semua siswa sudah hadir dalam kelas. Kecuali meja dekat jendela. Di mana biasanya bertengger sosok tomboy Raira. Tapi pagi itu hanya teman sebangku Raira saja yang kelihatan, Niki tengah duduk sambil tengok kiri dan kanan, mencari sahabatnya yang ia dapatkan tak ada dalam kelas.

“Eh lo tau Raira kemana gak?” Tanya Niki pada temannya yang berambut kriting. Ia tengah sibuk nyontek PR pelajaran Kimia yang sebentar lagi akan dimulai.

“Raira? Lho, kok lo nanya sama gue sih, bukannya Raira sahabat lo yang baik hati dan tidak sombong. Kayak sendok dan garpu gitu deh,” jawab gadis berambut kriting. Ujung bibirnya terangkat keatas.

“Gak nyambung tau!” balas Niki tak kalah jutek.

Niki dan Raira memang terkenal dua orang sahabat yang solid. Baik itu dalam hal contek mencontek, atau pun dalam hal ngejailin temen-temen sekelasnya. Bahkan, teman-temannya sepakat menjuluki mereka sebagai Dua Peri Jail dari Bukit Cemara. Kenapa bisa dikatakan begitu? Karena secara kebetulan mereka berdua itu bermukim di tempat yang sama yaitu sebuah komplek perumahan dekat Hutan Cemara.

Tapi sekarang Niki merasakan ada yang ganjil dalam diri Raira. Bisa dikatakan dalam setiap mata pelajaran Kimia, Raira tak pernah datang atau bahkan jarang sampai gak masuk sekolah, padahal ia termasuk siswa yang nge fans berat sama mata pelajaran itu. Terus beberapa hari kebelakang, sahabatnya itu tampak murung dan sering uring-uringan tidak karuan. Entah apa yang menyebabkan sikap Raira seperti itu, dan jawabnya selalu klasik. “Gue lagi dapet nih.” Hanya itu yang keluar dari sepasang bibir Raira jika Niki iseng bertanya tentang kejanggalannya.

“Selamat pagi anak-anak,” Pak Siran muncul dari balik pintu. Ia guru mata pelajaran Kimia untuk kelas dua.

“Pagiiiiii, pak,” serempak anak-anak menjawab.

Pak Siran adalah guru baru di sekolah Raira. Ia datang untuk menggantikan Pak Karto yang dipecat karena menggelapkan uang sekolah. Meski terkesan masih muda, tapi Pak Siran mempunyai wibawa untuk disukai murid-muridnya. Selain berwajah lumayan tampan, ia juga punya gaya mengajar tersendiri. Mungkin itulah yang menjadikan Pak Siran dengan cepat menduduki posisi guru yang paling disayangi.

Ia tersenyum manis pada semua murid. Lalu menyapukan pandangnya pada setiap wajah muridnya. Tak ketinggalan, wajah ayu Niki ikut terkena imbas tatapannya. Tapi, ada sebuah sinar aneh dari sorot mata Pak Siran, saat matanya menubruk bangku yang biasa dihuni Raira. Tapi itu hanya sebentar, dengan cepat ia membuang pandangan itu pada sebuah lembaran beirisi daftar absensi siswa.

“Abduga Rifa’i…”

“Hadir Pak.”

****

Bel istirahat 5 menit sudah berlalu. Niki berjalan gontai menuju kantin sekolah, ia masih heran dengan ketidak hadiran Raira hari ini. Apa mungkin ia sakit, ia rasa tidak. Bukannya kemarin ia masih sempat bermain sepak bola dengan anak-anak lelaki di lapangan basket. Atau jangan-jangan Raira malah nekat menyerang SMU simpang tiga, sendirian? Itu juga gak mungkin, Niki sudah pasti dikasih tahu terlebih dahulu tentang hobi anehnya itu. Lalu kemanakah Raira?

“Hai Nyitnyit!” tiba-tiba suara cempreng seorang cewek terdengar nyaring di sudut kantin. Niki sumeringah, ia hapal betul siapa yang memanggilnya dengan sebutan itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Raira.

Niki memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara itu. Di sana ia melihat sosok sahabatanya tengah asik makan batagor sambil melambaikan tangan.

“Ngapain lo di sini, Ra?” Tanya Niki dengan tatapan heran.

“Makan batagor,” jawab raira kalem. Diteguknya minuman dingin dari gelas berukuran sedang, sebelum kembali melahap batagor buatan Ibu Kantin.

“Iya gue tahu. Yang gue maksud, kenapa lo tadi gak masuk pas pelajaran pertama?”

Raira tak menjawab. Dibiarkannya Niki menjilati wajahnya dengan tatapan penuh tanya.

“Ok Ra, kemarin lo boleh ngehindar dengan alasan lagi dapet lah, lagi bad mood lah. Dan sekarang saatnya lo terus terang sama gue, sebenarnya gue tuh sudah lama heran dengan sikap lo,” mimik muka Niki mulai menjurus serius. Rupannya ia sudah bosan dengan alasan-alasan klasik yang selalu disodorkan Raira padanya. “Pertama, gue sering mergokin lo ngelamun sendirian kalau waktu jam pelajaran kosong. Bukannya menurut lo sendiri ngelamun itu bagian dari pada pemborosan? Itu pertama, lalu yang kedua, kenapa setiap pelajaran Kimia lo gak pernah datang? Dan itu sudah beberapa kali terjadi. Semenjak Pak Siran menggantikan Pak Karto yang dipecat sebagai guru kimia kita.”

“Terus,”

“Terus, terus, kakek lo. Gue heran aja, kan Kimia itu pelajaran favorit lo.”

“Ya, biasa Nik, gue lagi boring sama tuh pelajaran.”

“Gak! Gue yakin pasti ada apa-apanya. Raira, gue itu sudah lama banget bersahabat sama lo. Semua masalah lo adalah masalah gue juga, dan setiap masalah gue adalah masalah lo. Tapi, kenapa sekarang lo malah berkesan menutup-nutupi semua itu dari gue.”

Raira terdiam tanpa kata. Menghanyutkan lamunan lewat selembar tisu kering yang tengah dipermainkan oleh jari tangannya. Sekilas tampak adanya genangan telaga bening di kedua bola matanya. Telaga itu siap meluap membanjiri tepian wajah Raira, kalau seandainya ia tidak segera mengerjapkan mata.

Raira menarik napas panjang, kemudian mengehembuskannya dengan kuat. Seolah ingin membuang semua penat yang selama ini membatu dalam dadanya.

“Baik kalau itu mau lo, gue akan terus terang tentang apa sebenarnya yang terjadi dalam diri gue. Tadinya gue malu untuk bilang semua ini sama lo, nik..” suara Raira terdengar parau. Beberapa kali ia menelan ludahnya sendiri. Tiba-tiba Raira merasa tenggorokannya jadi kering kerontang.

“Lho…kenapa musti malu Ra, gue kan sahabat lo.”

“Gue tahu Nik, dan hampir semua masalah, gue certain sama lo,” Raira berhenti sejenak untuk kembali menelan ludah. “Tapi maaf kalau ada yang gue sembunyiin dari lo selama ini. Tadinya gue ingin menguburnya dalam-dalam dan tak ingin ada seorang pun yang tau termasuk orang tua gue dan lo sendiri.”

“Maksud lo?”

“Maksud gue…….hmmmm…kenapa gue harus gak datang di setiap pelajaran Kimia. Dia…dia adalah orang yang paling gue benci.”

“Pak Siran maksud lo Ra?”

“Iya…dia itu Oom gue, sekaligus orang yang telah…..”

kembali terlintas dalam benak Raira kejadian beberapa tahun lalu. waktu dirinya masih duduk di bangku SMP, di sanalah kejadian memalukan itu menjelma menjadi luka yang tak akan pernah dilupakannya sampai sekarang.

Waktu itu Raira kecil sering ditinggal orang tuanya karena kesibukan bisnisnya di luar kota. Di rumah hanya ada ia dan pamannya yang masih berstatus mahasiswa bernama Siran Tirani. Malam yang pekat menjadi saksi bisu, saat Raira tertidur pulas dalam kamar, tiba-tiba pamannya masuk dengan keadaan mabuk berat. Entah setan apa yang hinggap di kepala paman Raira, ia mendekap tubuh sintal Raira dan memaksanya untuk melayani nafsu birahinya. Raira tak mampu berbuat banyak, selain pamannya mengancam akan membunuhnya jika berani berontak, toh tak ada gunanya melawan karena tenaga Raira tetap akan sia-sia. Terpaksa malam itu Raira harus rela kehilangan sebuah mahkota yang paling berharga dalam diri seorang wanita, kesucian.

“Itulah sebabnya kenapa gue benci dia Nik,” Raira menuntaskan ceritanya. Kini telaga bening itu benar-benar meluap seiring isak kecil dari bibirnya.

“Ya ampun Raira, kenapa lo gak pernah cerita sama gue sebelumnya,” Niki beringsut dari duduknya untuk kemudian dua sahabat itu larut dalam isak tangis.

“Maafin gue Nik, Gue malu. Gue sudah gak suci lagi. Dan…gue labih baik pindah sekolah saja kalau dia masih mengajar di sekolah kita,” ujar Raira di sela-sela isaknya.

“Gak! Lo jangan ngomong begitu, bukan lo yang harus pindah. Tapi dia, Si Siran bajingan itu. Dia lah yang harus keluar dari sekolah ini, dan juga dari kehidupan gue.”

“Maksud lo apa, Nik?” kini giliran Raira yang melayangkan tatapan heran pada Niki. Tiba-tiba saja sahabt dekatnya itu berkata demikian.

Niki bangkit dari duduknya, mengambil ponsel dan memijit beberapa digit angka pada keypad. Setengah berteriak Niki mengeluarkan kalimat yang membuat mata Raira terbelalak.

“Mah! Batalkan pernikahan mamah sama Pak Siran! Niki gak mau punya ayah seorang bajingan! Batalkan!”

Bel masuk berdering di tengah dua emosi yang membuncah.

Kuta Bali, 9 Agustus 2003

Tinggalkan Komentar