cerpen : Kado Untuk Pacarku

Wajah kota kembali tersenyum lebar. Setelah beberapa jam yang lalu hujan beserta angin mendekapnya. Kini orang-orang yang terperangkap dalam emper-emper toko bisa bernapas lega. Mereka mulai melanjutkan aktifitasnya. Ada yang pulang, ada juga yang memilih berjalan-jalan di trotoar menikmati udara Kota Bandung habis hujan memang sedikit menyenangkan.

Namun masih ada mendung yang bergelayut di wajah Andi. Dia hanya duduk di sudut sebuah mall. Tatapan matanya lurus ke arah lalu lalang kendaraan di jalan raya. Tapi yang jelas dia tidak menghitung jumlah kendaraan yang lewat, ada kegalauan yang sedari tadi meliputi dadanya. Rasa itu kian lama kian membuncah yang akhirnya menjebol tanggul dalam matanya. Air bening pun meleleh menuruni kedua pipinya.

Sesaat ia menarik napasnya. Disekanya air mata itu dengan ujung switer hitamnya. Matanya beralih pada etalase toko pakaian. Ada gaun merah jambu terpampang dengan manis di dalamnya. Kembali Andi menghela napas panjang, kali ini dibarengi oleh desahan parau. Seperti nada seseorang yang putus asa. Seketika itu juga ada wajah seorang gadis cantik melintas dalam bayangnya. Gadis itu tersenyum, seperti hendak memutar slide-slide kehidupan yang lalu. Andi pun terlempar ke dalamnya.

“Bagaimana? Bagus kan Di, gaun itu?” gumam si gadis pada suatu sore.

“Bagus sih bagus, Mel. Tapi sayang harganya mahal banget,” jawab Andi seraya membungkukan badan melihat harga yang tertera di bawah gaun itu.

“Ya namanya juga barang bagus. Mana mungkin ada yang murah. Bukannya harga menentukan kualitas?” Tanya Melia si gadis. Mata jenakanya tetap memandang gaun.

Andi diam. Sorot mata Melia seakan memancarkan sebuah keinginan untuk memiliki. Semua orang pasti bakal setuju kalau gaun itu memang pantas bersanding dengan kulit halusnya Melia. Dan lebih pantas jika Andi sendiri yang mempersembahkannya untuk dia. Tapi rasanya itu tak mungkin, ibunya yang hanya penjual gorengan mana sanggup memberi uang sebesar harga gaun itu. Ujung-ujungnya Andi hanya bisa menelan ludah.

“Kalau aku memilikinya, pasti akan kupakai di hari ulang tahunku nanti. Tapi, mana mungkin Papaku kan baru saja di PHK. Dia pasti tidak punya uang buat beli gaun itu. Ah….sudahlah mungkin bukan miliku saja. Ayo, Di,” tangan Melia mengapit tangan Andi. Mereka pergi meninggalkan etalase.

Ada sebuah godam menghantam dada Andi. Seperti pribahasa, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai, kira-kira begitulah ke adaan dirinya sekarang. Melia…..coba kalau aku kaya, jangankan gaun, kapal pesiar pun pasti kubelikan. Semuanya kepersembahkan untukmu Melia, hanya untumu! Gumam Andi dalam hati.

Suara guruh di angkasa membuyarkan lamunan Andi. Ia menoleh jam tangannya. Jarum pendek menunjuk pada angka 4. Andi mendesah. Berarti tinggal beberapa jam lagi menuju pesta kecil yang diadakan Melia untuk ulang tahunnya ke 17. Andi bangkit, mulai berjalan menjauh dari sudut mall. Berbagai macam rasa campur aduk dalam dadanya. Berdebum bagai ombak Pantai Selatan. Hadiah apa gerangan yang akan ia persembahkan pada hari istimewa Melia kekasihnya itu? Cintakah? Sayangkah? Ah! Basi, semuanya basi! Jelas Melia akan senang kalau hadiah itu berupa barang yang sangat ia idamkan. Gaun merah jambu! Ya, itulah hadiah yang sangat tepat. Tapi bagaimana caranya?

Lagi-lagi Andi dihadapkan pada sebuah pertanyaan dimana ia sendiri belum menemukan jawabannya. Setidaknya sampai ia sadar jika ada kegaduhan terjadi beberapa meter di depannya. Seorang laki-laki berbaju hitam dikejar oleh puluhan orang lengkap dengan pentungan, kayu, bahkan senjata tajam. Mereka meneriaki laki-laki itu sebagai copet. Tapi si copet itu seperti tidak peduli. Ia terus berlari tepat menuju arah dimana Andi berdiri gagap.

Belum sempat kesadarannya pulih. Tiba-tiba tubuh si copet menghantam tubuh Andi. Andi terpelanting, badannya menghantam pagar pembatas jalan. Ia meringis menahan sakit pada punggungnya. Matanya menoleh pada si copet yang lari tunggang langgang. Andi bangkit hendak mengejarnya, tapi tiba-tiba tangannya meraba sesuatu. Sebuah tas perempuan warna coklat! Barang ini yang sempat dilihatnya dibawa si copet.

Suara gemuruh dan teriakan massa semakin dekat. Andi menoleh ke arah suara riuh itu. Ya Tuhan! Apa yang terjadi? Semua mata beringas penuh nafsu itu menuding padanya. Senjata tajam dan pentungan diacung-acungkan bagai kuku-kuku malaikat maut yang siap melumat jasad mangsangya.

“Tangkap! Bunuh!”

“Bakar saja! Ayo tangkaaaaap!”

“Jangan dikasih ampun! Gelengkeun ka kareta euy!!”

Bulu kuduk Andi berdiri. Teriakan ancaman itu sangat mengerikan. Berpikir bukanlah sesuatu yang baik pada situasi seperti ini. Penjelasan apapun tidak akan meredam amarah massa. Jalan satu-satunya adalah lari sekencang mungkin. Menyelamatkan diri sebelum terlambat!

Secepat kilat ia berbalik. Lari menerobos padatnya lalu lintas. Memasuki jalan-jalan kecil yang beliku-liku seperti tubuh ular naga. Ia tak peduli apa yang ada di depannya. Andi lari bagai anak panah melesat dari busurnya. Kemampuannya sebagai juara lomba lari tingkat kecamatan digunakan sebagai senjata sakti. Dalam pikirannya saat ini adalah pergi sejauh mungkin.

Akhirnya ia sampai pada sebuah jalan lumyan besar. Dia berhenti sebentar untuk mengatur napasnya. Menengok ke belakang. Suara teriakan itu sudah tidak terdengar lagi. Sepertinya para pengejar sudah kehilangan jejak. Dan Andi bisa bernapas lega. Kini tinggal memikirkan nasib tas yang ada di tangannya. Gara-gara tas itu hampir saja nyawanya melayang sia-sia. Ia menatap tas itu dengan perasaan kacau balau.

Tapi ada rasa penasaran menyelinap masuk dalam hati Andi. Tentang isi tas itu, pasti milik orang kaya. Semuanya dapat ditebak lewat merek yang tertera di atasnya. Perlahan ia buka tas itu. Matanya seketika terbelalak saat melihat isi tas. Ada sebuah telepon genggam mewah, beberapa alat kosmetik, dan dompet.

Hatinya berguncang hebat ketika membuka dompet itu. Pupil mata Andi membesar. Seumur hidupnya belum pernah ia melihat uang sebanyak itu. Bahkan bermimpi pun tidak berani. Puluhan lembar uang seratus ribuan dan beberapa lembar lima puluh ribuan. Tangan Andi bergetar, dengan uang sebanyak itu ibunya pasti tidak usah repot-repot berkeliling jualan gorengan. Keluarganya bisa makan enak. Dan yang pasti….ya! ia bisa membelikan hadiah buat Melia!

Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Meski limbung ia tetap melangkahkan kakinya tanpa tujuan jelas. Ada perang campuh dalam batin Andi. Antara Si Putih dan Si Hitam. Mereka terus menghantui dalam setiap langkahnya. Kadang mereka menjelma menjadi dua sosok manusia yang sangat dicintainya. Melia dan ibunya sendiri.

“Belikan uang itu, Andi. Kau ingat, Melia sangat menginginkan gaun. Belikan saja pasti dia akan sangat senang,”

“Ingat anakku, semiskin apapun kita jangan pernah sampai kita mengambil yang bukan hak kita.”

“Jangan dengarkan, Andi! Itu milikmu yang syah. Kau tidak mencuri.”

“Ingat mengambil yang bukan hak itu adalah dosa.”

“Alaaa! Jangan bodoh! Kau lagi butuh, ambil! Kesempatan gak bakalan datang dua kali.”

“Jangan! Itu dosa!”

“Itu milikmu!”

“Bukan!”

“Milikmu!”

“Bukan!”

“Milikmuuuuu, ayo ambil!”

“Bukaaaan!”

TENG!! Tiba-tiba Andi merasa jidatnya membentur benda keras. Ia meringis sambil mengelus-ngelus jidatnya. Sebuah tiang berdiri kokoh di depannya. Di atas tiang itu terpampang sebuah papan pemberitahuan. Andi mendongak ke atas, dan mundur beberapa langkah. Dari tempat sekarang berdiri, ia dapat melihat tulisan di atas papan itu. Tulisan itu dicetak dengan huruf kapital dan sebuah anak panah menunjuk pada sebuah bangunan.

Andi tertegun. Papan itu bagaikan malaikat penolong untuk perang campuh dalam batinnya. Andi menatap tas itu, kemudian papan dengan huruf kapital, beralih lagi pada tas, kemudian papan, tas lagi, papan lagi, tas, papan, dan…..tap! matanya mantap menatap sebuah bangunan di sebrang jalan. Ada kesejukan dan rasa bangga mengalir di lubuk hatinya. Setidaknya untuk sebuah keputusan penting tentang nasib dari tas itu.

Dengan senyum merekah, Andi melangkah menuju bangunan di seberang jalan. Kali ini langkahnya tidak limbung dan bimbang. Namun tegap dan pasti. Di tengah jalan ia menghentikan langkah sekedar untuk menoleh ke belakang. Menatap sejenak papan pemberitahuan itu. Ia membacanya kembali huruf demi huruf di atasnya. KANTOR POLISI. Andi tersenyum bangga.

Kini Andi telah menemukan sebuah hadiah yang tepat untuk Melia.

“Kejujuran ini hadiah untukmu, sayang,”

Andi melangkah. Angin sore membelainya dengan lembut.

Tinggalkan Komentar