Teror Alam Ghaib

ini pengalaman gue saat latihan teater tadi sore. biasa naskahnya belum berubah juga, masih tentang pementasan Sandekala. masalah begini, saat itu gue lagi duduk santai di pojok Gedung Rumentang Siang. tempat itu biasa dipakai sama gue buat merogo sukmo (edan bahasana) atau istilah lainnya menghapal dialog. mencoba nyari bentuk baru sekalian menikmati secangkir kopi hasil ngutang dari Mang Ndut. sementara di panggung sana adegan baru sampai pada babak Warung Kersen. berarti sebentar lagi giliran gue buat akting. babak yang akan gue jalanin itu bercerita tentang Diah Pitaloka yang mengirimkan daun lontar berisikan tulisan Anggana (menyendiri). di sana juga Bagus Madenda harus Trans menjadiBuyut Pawitan (kekasihnya Putri Diah).

lagi enak-enak nyantai tiba-tiba hidung gue mencium harum Bunga Melati. harumnya itu sangat kental, dan berbeda sekali dengan harum melati sebenarnya. bau yang gue cium itu seakan membawa getaran dahsyat. seketika keanehan muncul dengan tiba-tiba, gue merasa ada dialam lain. alam yang samar dengan suara-suara tabuhan gamelan. tapi untungnya kejadian itu tidak berlangsung lama, hanya terjadi beberapa menit saja. dan saat itu juga, gue langsung ngeluarin ilmu yang selama ini tidak pernah digunakan yakni…….kabur. gue kabur Man! hebat kan? langsung gue nyamperin ke Kang Emul yang berperan menjadi Aki Kuncen. gue duduk dipinggirnya tanpa ngomong apa-apa. beberapa detik kemudian, kang emul berbisik “Harum Melati,” gumamnya. kontan saja gue kaget plus pias.lalu Kang Emul natap wajah gue. ia seperti melihat sesuatu dalam diri gue. mungkin beliau adalah seorang yang mempunyai ilmu kebatinan, hanya dengan menganggukan kepala bau Bunga Melati itupun hilang entah kemana.

tidak berapa lama babak giliran gue tiba, suara Diah Pitaloka telah terdengar. gue langsung masuk ke panggung, dan selanjutnya gue sukses……..kesurupan.

Dasar Aktor

jadi aktor dalam pementasan teater itu bagaikan bermain di dalam kolam yang banyak kuyanya. meskipun segar tetap bikin pusing. begitulah, belum juga rasa pusing dalam peran Bagus Madenda di Sandekalanya mainteater. sekarang sudah ada lagi tantangan yang lumayan besar. teater LAKON yang menawarkan tawaran itu, gak tanggung-tanggung kali ini bukanlah sosok manusia nyata yang harus diperankan. melainkan seorang manusia titisan Wisnu, Sri Batara Kresna. pementasan itu rencananya akan digelar pada Festival Mahasiswa Nasional di Jakarta.

bagiku ini adalah tawaran yang luar biasa, kalo meranin tokoh seperti Bagus Madenda kita masih bisa melakukan observasi kepada manusia biasa. tapi buat Batara Kresna, apa yang harus kita lakukan? tapi bagiku bukanlah harus takluk, tapi sangat-sangat tertantang. kapanlagi mersakan jadi seorang raja sakti mandraguna seperti Kresna.

wah….lagi bad mud neh. lain kali saja ya ceritanya.

layar merah dan realita

kalo dulu dunia pernah heboh oleh isu akan ada tabrakan antara bulan dan planet mars, kini dunia seakan demam oleh isu layar merah, yang katanya bisa membuat penerima pesan melawat ke alam barzah. hampir semua blog mengupas tuntas masalah itu. percaya gak percaya sih, cuman sayangnya isu tersebut ditanggapi oleh beberapa orang yang pernyataannya dapat dipercaya. tapi menurut gw, ya kalo manusia mau mati gak usah lewat teror semacam itu. lha wong kejeduk ato nginjek bom aja bisa kok mati, gak usah lewat SMS layar merah segala. ngapain repot-repot. kalo gak percaya coba saja beli granat (ato pinjem ke tentara) trus dimakan sama cat tembok, gw jamin dah lo bakalan ngerasain bagaimana menderitanya azab kubur. ya intinya jangan gampang percaya saja, takdir itu ditentukan oleh Tuhan bukan HP. iya kan? so tenang saja.

aneh, apa orang-orang pinter tuh udah gak ada kerjaan laen selain nakutin manusia. apa gak puas pembodohan terhadap bangsa oleh film-film tahayul murahan. lha, kalo udah merasa pinter mah mendingan tapa saja deh. ngasingin diri ke puncak gunung ato lembah biar ilmu yang didapet marifat. benerkan daripada bikin orang lain parno mendingan bikin orang lain porno. hahahaha. udah ah pusing gw mikirin hal begituan, yang namanya isu pasti terus-terusan muncul. coba saja bentar lagi juga pasti muncul ixu yang lainnya. mungkin saja yang lebih gawat, misalnya, Ka’bah ada yang mindahin ke Gunung Semeru. nah lho?

belum ada kabar!

berita hari ini gak bakalan datang dari BMG, tapi masih seputaran nasibku dalam garapan “Sandekala” itu. sumpah beneran, makin hari makin kerasa saja pusingnya meranin Bagus Madenda. seorang wartawan idealis. kalo dibandingin peranku waktu main di Gubug Dalam Goa jauh lebih sulit, di sana aku kebagian jadi batu karang yang kehujanan. toh tetep aja aku bisa berperan sebaik mungkin, tapi yang ini (baca: bagus madenda) jauh lebih sulit. mendingan sekalian saja kirimin zet tempur buat membom diriku, daripada disiksa sedemikian rupa oleh psikologis bagus yang harus aku peranin.

tapi aku gak bakalan nyerah sebelum tanding, segala macam cara sudah kucoba untuk mempermudah penjiwaaan karakter itu. diantaranya : tapa di Curug Shigai, berdoa tiap malam agar ketemu dengan putri Diah, nanya sutradara, nanya senior, nanya tukang parkir, nanya sama orang gila. Nah khusus untuk yang terakhir aku gak nanya bagaimana berakting yang bauk dan benar, tapi aku nanyain kenapa orang gila tak pernah sakit. dan jawaban yang kudapat cukup puas, yakni. HULA_HULA-hulaaaaaa…..BLETAK!

lagi-lagi akting riweh

akhirnya selesai juga, gue balik dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat indonesia ke depan pintu gerbang sekolah (ngaco deh). kejadianyya begini……tepat jam setengah lima pagi ceicit burung yang biasanya terlewatkan kehadirannya tadi pagi seolah mendengkur pulas. bukannya aku mau ikut perang kemerdekaan karena harus bangun pagi, melainkan ada panggilan shotting dari metro tv. katanya mereka akan membuat film dokumenter tentang tokoh Tiga Serangkai yang terkenal itu lho, yakni Ki Hajar Dewantara, Dr. Setiabudi, Dr. Cipto Mangunkusumo. nah! nama terakhir itulah yang akan kucoba “menjadi” alias berperan (lieur ah bahasana). intinya aku kebagian jadi Dr. Cipto. lokasi shooting pun di pilih yaitu di Mesium Geusan Ulum, Sumedang. oh ya sebelumnya daku juga pernah terlibat dengan garapan metro tv yang lain (Pena Tajam, Tirto Adisuryo ; pahlawan nasional pers).

gancang weh nya, udah weh dibagi honor. tah begitu ceritanya….

jiwa di tengah sandekala

peran jadi Bagus Madenda? alah tadinya tidak tebayang, saya sendiri sudah merasa enjoy dengan peran Tisna yang saya lakoni dalam naskah Sandekala itu. tapi tiba-tiba ada semacam tantangan yang harus saya lawan saat sang sutradara Kang Wawan Sofwan membaiat saya jadi Bagus Madenda. hal itu adalah bagian dari rolling pemain yang beliau lakukan. setelah sebelumnya teman saya (Bahuy) harus menerima pil pahit atas pilihannya. bahuy harus menerima sangsi untuk tetap konsisten pada tempat dimana ia dilahirkan jadi seorang aktor.

kembali pada nasib saya. Gusti…….bagi saya menjadi Bagus Madenda (salah satu tokoh sentral) tidaklah gampang dan bukan sebuah kegembiraan. ini adalah ujian bagi saya, tidak lebih meripakan tantangan eksistensi apalagi sebelumnya publik teater Jawa Barat mengalami riweh setelah tanpa diduga ada lelaki kucil dan item meraih aktor terbaik dan penata artistik terbaik FDBS X.